Tokoh Papua Bersatu Kecam Kekerasan dan Serukan Perdamaian
Oleh : Yohanes Wandikbo )*
Kekerasan terhadap masyarakat sipil di Papua kembali mendapat perhatian serius dari para tokoh adat. Penembakan terhadap tiga orang sipil di Distrik Muliama menjadi momentum bagi sejumlah kepala suku dan ondofiai untuk menyampaikan sikap bersama bahwa kekerasan bukan jalan penyelesaian persoalan. Dari berbagai wilayah, suara yang muncul relatif senada, yakni mengecam penembakan, meminta proses penegakan hukum berjalan, serta mengajak masyarakat menjaga keamanan dan perdamaian.
Kekompakan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Papua memiliki kepedulian kuat terhadap terciptanya lingkungan yang aman. Para tokoh adat tidak hanya menyampaikan kecaman atas kekerasan, tetapi juga mengambil peran dalam meredam potensi ketegangan di tengah masyarakat. Seruan untuk tidak terprovokasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi menjadi pesan penting agar sebuah peristiwa keamanan tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.
Kepala Suku Saquasit Sem Tasti mengecam aksi penembakan terhadap tiga orang sipil di Distrik Muliama. Ia mengajak tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, serta seluruh masyarakat Papua untuk bersama-sama menjaga keamanan, kedamaian, dan kondusivitas wilayah. Sikap tersebut menunjukkan bahwa para pemimpin masyarakat di tingkat lokal dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ketenangan ketika terjadi peristiwa yang berpotensi memicu keresahan.
Pesan serupa disampaikan Ondoafi Skouw Sae David Lomo. Ia mengecam penembakan terhadap masyarakat sipil dan mengimbau warga untuk terus hidup rukun demi mewujudkan Papua yang aman dan damai. Seruan tersebut menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah atau langkah aparat keamanan, tetapi juga membutuhkan komitmen masyarakat untuk menjaga hubungan sosial di lingkungan masing-masing.
Kecaman juga datang dari Kepala Suku Muttang Eduard Muttang yang mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi hoaks maupun isu yang menyesatkan. Imbauan tersebut memiliki arti penting di tengah perkembangan media sosial yang memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat. Dalam situasi keamanan yang sensitif, kemampuan masyarakat membedakan informasi faktual dan informasi yang belum terkonfirmasi merupakan bagian dari upaya menjaga ketertiban.
Masyarakat juga membutuhkan informasi yang akurat mengenai perkembangan penanganan kasus. Karena itu, proses hukum perlu terus dikedepankan agar penyelesaian persoalan dilakukan melalui mekanisme yang sah. Langkah tersebut sekaligus memberikan kepastian bahwa kekerasan terhadap warga sipil mendapatkan perhatian dan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sikap tegas terhadap kekerasan juga disampaikan Ondoafi Kampung Yoboi Frans Wally. Selain mengecam penembakan, ia menyampaikan duka cita atas meninggalnya para korban dan mendorong adanya upaya penegakan hukum oleh aparat keamanan. Dorongan tersebut menunjukkan adanya harapan dari masyarakat agar kasus kekerasan dapat ditangani secara serius sehingga memberikan rasa aman sekaligus mencegah kejadian serupa kembali terjadi.
Dalam konteks pembangunan Papua, keamanan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat. Aktivitas pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga kehidupan sosial masyarakat membutuhkan situasi yang kondusif. Ketika masyarakat merasa aman, berbagai program pembangunan dapat berjalan lebih optimal dan manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Karena itu, pesan yang disampaikan Kepala Suku Abiasit Gideon Abiasit menjadi relevan. Ia mengajak tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan masyarakat Papua untuk tidak terprovokasi oleh kejadian penembakan tersebut serta terus menjaga keamanan di wilayah Papua, khususnya Mamberamo Raya. Seruan ini memperlihatkan pentingnya peran tokoh masyarakat dalam menjaga ketenangan dan mencegah berkembangnya ketegangan di tingkat akar rumput.
Sementara itu, Ondoafi Kampung Nolokla Yansen Ohee berharap pemerintah daerah dan aparat keamanan dapat menyelesaikan kasus penembakan tersebut. Ia juga mengimbau masyarakat Papua, baik di wilayah pesisir maupun pegunungan, agar tidak terprovokasi. Pesan tersebut memperkuat gagasan bahwa keamanan Papua merupakan kepentingan bersama yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat tanpa membedakan latar belakang wilayah.
Berbagai pernyataan tersebut menunjukkan adanya kesamaan pesan di antara para tokoh Papua. Mereka mengecam kekerasan terhadap masyarakat sipil, mendukung penyelesaian melalui jalur hukum, dan mengajak masyarakat mempertahankan kedamaian. Kesamaan sikap itu penting karena stabilitas Papua tidak hanya dibangun melalui pendekatan keamanan, tetapi juga melalui partisipasi aktif masyarakat dan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh sosial di lingkungannya.
Pemerintah dan aparat keamanan tentu memiliki tanggung jawab untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan serta penanganan hukum terhadap setiap tindak kekerasan. Pada saat yang sama, masyarakat memiliki peran untuk membantu menciptakan situasi yang kondusif dengan tidak menyebarkan hoaks, menghindari provokasi, serta menyerahkan proses penanganan kasus kepada institusi yang berwenang.
Suara para tokoh Papua tersebut pada akhirnya menjadi bagian penting dari upaya menjaga perdamaian. Kecaman terhadap kekerasan yang disertai ajakan untuk hidup rukun menunjukkan bahwa masyarakat Papua menginginkan keamanan sebagai fondasi bagi masa depan daerah. Perdamaian membutuhkan komitmen bersama, dan seruan para tokoh adat tersebut memperlihatkan bahwa komitmen itu dapat tumbuh dari masyarakat sendiri.
Dengan menjaga persatuan, memperkuat komunikasi antarkelompok, mendukung proses penegakan hukum, serta menolak provokasi, masyarakat Papua dapat bersama-sama menciptakan ruang yang lebih aman bagi kehidupan sehari-hari. Suara tokoh-tokoh Papua yang bersatu mengecam kekerasan sekaligus menyerukan perdamaian menjadi pesan bahwa keamanan dan kedamaian merupakan kepentingan bersama yang harus terus dijaga.
)* Penulis meruipakan Pengamat Pembangunan Papua

