Penembakan di Festival Lembah Baliem, TPNPB Dinilai Pengecut dan Langgar Adat Istiadat
Wamena – Insiden penembakan yang terjadi di sekitar lokasi Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Distrik Walesi, Papua Pegunungan, menuai kecaman dari berbagai pihak. Aksi yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata TPNPB Kodap III Ndugama Derakma tersebut dinilai tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil, tetapi juga mencederai nilai-nilai adat dan budaya yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat Papua.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.50 WIT pada Sabtu (8/8/2026), saat Festival Budaya Lembah Baliem tengah berlangsung dan dihadiri masyarakat dari berbagai wilayah. Lokasi penembakan disebut berada sekitar 500 meter dari pintu masuk area festival, sebuah agenda budaya tahunan yang menjadi simbol persatuan dan pelestarian tradisi masyarakat pegunungan Papua.
Aksi kekerasan di tengah perayaan budaya tersebut memicu keprihatinan luas. Banyak kalangan menilai tindakan tersebut menunjukkan semakin jauhnya kelompok bersenjata dari nilai-nilai perjuangan yang selama ini mereka gaungkan. Penyerangan di sekitar ruang publik yang dipenuhi warga sipil dinilai sebagai tindakan pengecut karena menyasar situasi ketika masyarakat sedang berkumpul untuk merayakan budaya dan mempererat persaudaraan.
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Infanteri Tri Purwanto, mengatakan penembakan terhadap warga sipil yang terjadi di sekitar lokasi pelaksanaan FBLB diduga berkaitan dengan semakin sempitnya ruang gerak kelompok bersenjata akibat operasi pengamanan yang dilakukan aparat di sejumlah wilayah Papua Pegunungan.
Menurutnya, TNI terus berupaya melindungi masyarakat dengan mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata yang selama ini kerap mengganggu keamanan warga. Karena itu, penembakan yang terjadi di Walesi diduga merupakan upaya untuk menciptakan ketakutan dan mengganggu situasi keamanan di tengah berlangsungnya Festival Budaya Lembah Baliem yang telah dimulai sejak Jumat (7/8/2026).
Tri menegaskan bahwa TNI mengecam keras aksi penembakan terhadap warga sipil tersebut. Ia memastikan aparat keamanan akan terus meningkatkan pengamanan dan tidak memberikan ruang bagi kelompok bersenjata untuk mengganggu ketenteraman masyarakat maupun jalannya kegiatan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Papua.
“Kami mengecam aksi penembakan terhadap warga sipil dan memastikan tidak akan memberikan ruang bagi KKB untuk mengganggu keamanan masyarakat,” tegas Tri.
Kecaman serupa juga datang dari kalangan mahasiswa Papua. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih, Yuluku Wasiangge, menilai tindakan yang dilakukan TPNPB dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah kehilangan arah perjuangan dan semakin jauh dari kepentingan rakyat Papua.
Yuluku mengatakan masyarakat Papua pada dasarnya mendambakan kedamaian, pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang memadai, serta ruang aman untuk mempertahankan identitas budaya mereka. Karena itu, tindakan kekerasan yang terjadi di sekitar lokasi festival budaya tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Sebagai mahasiswa Papua yang lahir dan tumbuh di tengah realitas sosial masyarakat Papua, saya memandang bahwa berbagai tindakan yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa perjuangan yang mereka klaim perjuangkan telah kehilangan arah dan semakin jauh dari kepentingan rakyat,” kata Yuluku kepada wartawan.
Menurutnya, Festival Lembah Baliem merupakan ruang budaya yang seharusnya dihormati oleh semua pihak. Ketika kekerasan hadir di sekitar lokasi kegiatan tersebut, masyarakat justru melihat adanya ancaman terhadap warga sipil dan nilai-nilai adat yang selama ini dijaga bersama.
“Ketika kekerasan terjadi di sekitar lokasi festival, pesan yang muncul bukanlah tentang perjuangan, melainkan ancaman terhadap ruang hidup masyarakat sipil yang seharusnya dilindungi,” ujarnya.
Peristiwa di Walesi tersebut kembali memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap meningkatnya aksi kekerasan yang menyasar ruang-ruang sipil. Di tengah upaya membangun perdamaian dan menjaga warisan budaya Papua, berbagai kalangan berharap seluruh pihak menghormati adat istiadat serta menjauhkan masyarakat sipil dari segala bentuk konflik bersenjata.

